Untuk Mereka

Kamis, 11 Agustus 2011

Sunset ini untuk`Mu Ibu

Sore itu sembari mentari meredup
Hias cakrawala di langit
Jangan kau tampar aku dengan Api Ibu,
Biarkan aku mekan sesuap nasi dulu Bu,,,
Kau marah seperti Api yang menjilat
Biarkan aku makan lalu ku bersihkan Bu,,,

Ya… hanya sesuap nasi saja tuk akhiri sunset sore itu
Jangan tampar aku dengan hitam putih teriakan
Aku lelah Bu,,,    hanya ingin ku nikmati sesuap nasi dulu
Sungguh aku hanya ingin itu Bu
Aku sakit Bu,,,    hanya mungkin bisa ku pendam saja
Ku jilat ludah dari langit setiap malam Bu
Bulan enggan pulang saat aku mengerjakannya itu
Tak ingin pagi cepat datang
Aku di ludahi langit dan ku jilat Bu,,,

Sampai kapan aku akan bertahan
Di caci langit
Tak sanggup menjerit Bu.. tak sanggup!
Bu,,, hitam awan pasrah ku jilati
Kusam tubuh ini ku dekap
Dengan muak,,, aku lelah
Kan ku tunggu Bu… kan ku tunggu kutukan dari Tuhan kami
Amen…

Jumat, 29 Juli 2011

Puing Puisi


Lihatlah Tuan

Aku hanyalah puing yang tersisa dari sisa kemerdekaan
Apakah itu Aku?
Ataukah hanya kelabu..                                tidak
Ku pastikan itu bukan untuk tidak
Hanya ini yang ingin ku ceritakan
Bercerita untuk mereka yang tlah tiada

Mereka hanya ingin hidup merdeka dari sisa deritaNya
Bernyanyilah untuk semua demi cerita
Membangun sebuah kisah
Kisah mereka yang ada di dalam Istana Negara
Mereka yang hanya melihat “mereka” dari jendela

Aduh . . . sejuknya aroma Istana
Di damping ribuan selir Sang Raja
Raja yang bisu dan tuli
Keringat mereka bercampur darah
Keringatnya luka dendam
Teriaknya lontarkan derita  sya lala lala . . .
Tuan coba dengarkan

Senin, 25 Juli 2011

Ternoda oleh titik koma


Sekali melangkah kau lepas kasih
Dan kau relakan ia hinggap di taman yang lain

                Ini sedikit cerita dari si Putera yang sanggup memendam sebuah arti dalam kehidupan yang menekan benaknya. Ini adalah tretan (saudara) saya dari Madura yang kebetulan kami bertemu dari awal usaha yang saya jalani kini yaitu sablon. Bocah satu ini sudahmenjalani kisah cinta dengan pacarnya selama 6 tahun, namun di tengah perjalanan ternyata sekuat-kuatnya lambung kapal masih juga bisa bocor akibat goresan selama perjalan yang kemudian tenggelam. Kedua insane ini tenggelam dalam bimbang, galau, dilemma, dan perasaan yang begitu menekan satu sama lainnya.
                Satu kisah yang tidak pernah di harapkan oleh kedua insane ini ternyata menyapu kedua insane bagai ombak yang menyapu susunan-susunan karang kecil di pantai yang indah. Entah apa yang terjadi juga saya sedikit sulit untuk memahami apa yang terjadi dengan kedua insane waktu itu lewat cerita Si Putera. Sebagai sobat yang baik saya hanya bisa mendengarkan satu per satu dari cerita yang di kisahkan menjadi satu curahan hati.  Ceritanya begitu miris dan menyentuh namun akan tetap seperti pada pendirian, sakit hati adalah kematian jadi sakit hati, putus asa, sakit karena cinta… adalah satu masa menuju kematian awal.      Nampaknya sobat`ku ini tidak pernah berhenti sedikitpun untuk mencintai kekasihnya yang kini sudah hinggap di taman lain itu.
                Dan lagi-lagi inilah hidup yang seperti saya pernah katakana pada Ibu saya, apakah arti dari kenyataan hidup dan kehidupan nyata.

Tenggelam
Dalam satu angan yang tak akan terkisahkan
Dari pancaran sinar yang merona
Tak akan pernah berhenti dari sebuah jalan
Tak akan pernah dan tak pernah terhenti
Hingga kelabu tak lagi menjadi abu

                Catatan ini ku ketik dengan layar yang sangat kecil sehingga sobat saya ini tidak dapat membacanya. Karena sebenarnya sobat ini begitu rapuh dan terpuruk, namun satu kebanggaan saya memiliki sobat seperti dia… bocah ini masih mampu untuk menghibur dirinya melalui ejekan-ejekan dan kata-kata yang menghibur dirinya sendiri.

Untuk Tretan
“maaf sobat kau ku libatkan dalam catatan yang ku kisahkan, ini hanyalah catatan dari ketikan jari-jari yang berdosa. Jari-jari yang penuh tamparan dari Tuhan.. inilah aroma kenyataan hidup dan kehidupan nyata sobat. Semua memang tak akan pernah sama.. yakinlah.. kau bisa…. Untuk Tretan Alen Putera Pamungkas”.


Catur. Ws
Juli 2011

Minggu, 03 Juli 2011

Betapa mengerikan Kutukan Matahari bagi budak


Seruan dari alam mengairi tanah perjanjian
Dengan darah bagai balita serigala
Seperti matahari mereka yang di kutuk ketajaman mata iblis
Yah… yahh… ya itu hanya karena ulah
Bagaimana akan Pencipta mengerti tangisan mereka
Merintih,, di atas langit angsa merah
Ini menjadi tahun kemarahan semata
Lebih menakutkan dari kisah raja-raja

Jika mereka mati tak hanya ada lagi yang menghianati
Merah hanya tak akan menjadi suci
Seperti budak mereka kaum romawi !!!

Usapkan`lah………  sistim kerajaan
Punahkan`lah,,,enyahkan dari kedua bola mata

Aku tak semata berdoa memohon
Aku tak semata berdiri menantang
Hanya saja mereka dating MELAWAN !!!

Senin, 23 Mei 2011

Kisaran tak sama rata

Kau yang ucap satu mimpi yang harus di beli
Aku membeli mimpi tersebut dengan segenap hati
Dengan segenap TEKAD !! ngga cuma modal NEKAD.
Aku beranikan diri untuk mengambil langkah

Aku beranikan diri untuk menghadap segala resiko
Dan jika kau harus memang tak hadir disini
Keseimbangan itu hilang
Seperti angin tanpa arah..

Kemana hay kau sosok yang menjanjikan??
Kemana hay kau sosok yang memberi motivasi...
Jika harus kau tak disini...
Tanggung jawabMu hanya ingin ku tangisi..
yamm hanya itu sobat

_Socialist District beside Jurank_

Sabtu, 19 Maret 2011

Tentang Hamparan

Inilah yang terhampar
Tentang Hijau dedaunan
Tentang kuning bunga matahari
Tentang merah-nya langit yang tak bersahabat

      Tentang kehidupan
      Tentang kelangsungan yang berdampingan
      Tentang kesinambungan

















Tengok sekejap saja kau dari balik jendela
Lensa terindah ada hanya mata
Jangan kedipkan lensa mata 
Cari focus yang terindah                   buramkan yang menyakiti mata`mu
Tarik kembali pandangan lensa         dalam zoom awal


Kedipkan sekali saja kami punyai indera
Usai kita mengedipkan mata satu kali saja
Kita kembali kerumah                   Kami rindukan rumah
Rumah yang selalu berkisahkan         Tentang Alam







Catur.Ws//20)(03)(2011

Untuk Kami Hanya Alam hijau

Kamis, 17 Maret 2011

Jerit Anak Tuhan Dalam Rintihan

Apapun yang ku tanggalkan pada tubuh`Ku
Bagaimanapun cara untuk Ku dekatkan diri Pada`Mu
Sandang kehidupan-pun hampir Ku lambangkan atas Kerajan`Mu
Kaos,Lukisan kamar,Karya seisi kamar...
Bahkan Tatto                    Tuhan
Dan mungkin saja itu bukan hal yang terpuji                   di Mata`mu


Lamb Of God we are


Aku telah berserah jasmani untuk Kerajaan`Mu
Akulah Budak`Mu                akulah Anak`Mu
Akulah Anak Domba yang siap di korbankan untuk` Kau
                     Adakah Kau dengar suara`Ku
                     Adakah Kau usap ini air mata
                     Masihkah Kau memeluk`ku                             Tuhan




Aku menjerit atas darah`Mu
Ku lentangkan kedua tangan`Ku                     menghadap Kau
Ku menadahkan muka dan harapan                      kini
Maafkan saya                                                Tuhan
Aku hanya milik`Mu Jiwa`ku
Jiwa`ku menuntun                                          Aku
Menuju kedamaian diri`ku



Ws//18032011//Catur.